Bismillahirrahmanirrahim... Aliran Rasa Bunsay Game Level 9 Well, tak terasa ya, Level 9 Bunsay Game yang istimewa dan beda dari level-level sebelumnya kali ini sudah hampir tiba di penghujungnya. Level yang penuh dengan kejutan, tantangan mengasah kreatifitas dan juga bonus istimewa yaitu waktu yang super longgar karena bertepatan dengan libur Hari Besar dan Pergantian Tahun. Benar-benar seru sekali level ini. Di level kali ini, karena banyak agenda alias acara keluarga yang juga berpindah-pindah tempat (Semarang-Pemalang-Purbalingga-Jogja-Semarang), maka saya juga memutuskan untuk membiarkan tantangan di level ini mengalir apa adanya. Tidak saya sengaja atau ada-adakan. Tapi, tetap saja telah saya azzamkan, atau tekadkan dalam pikiran dan hati saya (kalau istilah agamanya mungkin niat ya sebelum melakukan sesuatu), bahwa hari-hari ke depan adalah hari-hari menantang kreatifitas. Dan ternyata hal itu memang seru sekali. Hari-hari yang berbingkai kreatifitas, AHA dan WOW momen...
Bismillahirrahmanirrahim... Day 08 Bunsay Game Level 9 Belajar Memecahkan Masalah Sendiri Kejadian ini berlangsung cepat, dan mungkin tak terlalu penting bagi orang lain. Tapi, bagi saya ini amat berarti. Jadi, situasi saat ini, kami bertiga telah pindah di rumah Biyung di kampung kelahiran suami, Bobotsari Purbalingga. Saat itu, saya sedang berada di kamar, membaca buku, eh berusaha mengkhatamkan buku yang saya pinjam dari teman saya yang rumahnya dekat sam Mbah Kakung. Haya sedang bermain bersama Ayah dan sepupu-sepupunya di ruang tamu. Lalu, saya mendengar suami saya meminta tolong pada Haya untuk mengambilkan plastik di dalam kamar. Tak lama kemudian, Haya masuk kamar. Lalu dia mulai membuka laci lemari plastik yang memang berada dalam jangkauannya. Saya memperhatikan, bahwa dia mengeluarkan sebuah sikat gigi yang berada di dalam plastik ziplock, lalu membawa palstiknya keluar kamar menuju Ayahnya. Samar-samar saya mendengar Ayahnya berkata, " pinter, terima kasih...
Bismillahirrahmanirrahim… Day 10 Level 3 Bunsay Game Berlatih tantangan dan kesabaran. Kali ini Haya tiba-tiba meminta untuk bermain puzzle evamat yang sudah terpasang di rumah. Dia meminta saya untuk membantu melepaskan puzzlenya, tapi saya menolak dengan halus, alih-alih menyemangatinya kemudian untuk mencoba mencopotnya sendiri. Dia merengek, meminta saya membantunya mencopot puzzle evamat bergambar kelinci itu, tapi saya menolak. Pelan-pelan saya menyemangatinya kembali agar ia mau mencopot puzzlenya sendiri. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, ia pun berhasil mencopotnya. Nah, kemudian, saat memasangnya kembali. Ada empat bagian yang perlu dipasang, yaitu bagian kepala, mata, kaki dan bagian ekor belakang. Awalnya ia bisa dengan mudah memasang bagian kepala dan matanya. Lalu giliran badannya, ia merasa kesulitan mengepaskan puzzlenya. Berkali-kali Haya mencoba dan memang belum pas. Sepertinya ia mulai kesal dan benarlah, tak lama kemudian ia merengek memi...
Komentar
Posting Komentar