Bismillahirrahmanirrahim... Aliran Rasa Bunsay Game Level 9 Well, tak terasa ya, Level 9 Bunsay Game yang istimewa dan beda dari level-level sebelumnya kali ini sudah hampir tiba di penghujungnya. Level yang penuh dengan kejutan, tantangan mengasah kreatifitas dan juga bonus istimewa yaitu waktu yang super longgar karena bertepatan dengan libur Hari Besar dan Pergantian Tahun. Benar-benar seru sekali level ini. Di level kali ini, karena banyak agenda alias acara keluarga yang juga berpindah-pindah tempat (Semarang-Pemalang-Purbalingga-Jogja-Semarang), maka saya juga memutuskan untuk membiarkan tantangan di level ini mengalir apa adanya. Tidak saya sengaja atau ada-adakan. Tapi, tetap saja telah saya azzamkan, atau tekadkan dalam pikiran dan hati saya (kalau istilah agamanya mungkin niat ya sebelum melakukan sesuatu), bahwa hari-hari ke depan adalah hari-hari menantang kreatifitas. Dan ternyata hal itu memang seru sekali. Hari-hari yang berbingkai kreatifitas, AHA dan WOW momen...
Bismillahirrahmanirrahim… Day 5 Level 3 Bunsay Game Setelah aktifitas yang begitu melelahkan, apalagi setelah melewati agenda mudik libur lebaran dengan berbagai acara yang tentunya butuh banyak aktifitas fisik yang cukup menguras banyak hal, tak hanya tenaga saja, maka ada saatnya memanjakan diri yaitu salah satunya dengan pijat. Tak hanya saya pribadi, namun saya juga memijatkan Haya. Alhamdulillah kami berdua sudah menemukan tukang pijat yang cocok dan enak untuk kami berdua. Saya dan Haya sudah punya tukang pijat langganan masing-masing. Kalau saya sendiri, mbak pijatnya saya undang ke rumah, Alhamdulillah. Kalau Haya, biasanya kami langsung datang ke rumah mbahnya yang jaraknya tak terlalu jauh juga. Biasanya kalau saya pijat waktunya malam, bada maghrib atau isya, karena mbaknya memang bisanya jam segitu, sedangkan Haya biasanya pijat pagi hari antara jam 7an pagi kami antar ke rumah mbah pijat. Kami juga tak sering-sering pijat, hanya kadang-kadang kala...
Tak terasa sudah hari terakhir batas waktu tantangan Bunsay Game Level 02 ini tentang melatih kemandirian. Berakhirnya masa tantangan ini, bukan pula berarti menjadi akhir dari sebuah proses belajar kemandirian. Justru bagi saya, hal ini baru permulaan, menjadi meomentum bagi sebuah proses kemandirian yang paling berat yang harus dilatih kepada anak, yaitu proses menyapih. Ya, pasca sakit demam kemarin, saya justru mencoba membulatkan tekad untuk memulai menyapih Haya. Sekalian saja rewelnya, piker saya dan menurut saya insyaAllah ini momen yang pas bagi saya dan Haya. Saya sudah mencoba menguatkan diri saya, dan juga meminta ijin serta dukungan dari suami. Alhamdulillah suami mengijinkan dan sudah mulai legowo dengan keputusan saya untuk menyapih Haya. Jika dipikir, berat memang, kebiasaan yang sudah terikat selama dua tahun lebih ini, tentu tidak mudah melakukannya, apalagi bagi anak. Saya juga benar-benar harus menguatkan mental untuk tega dan tegas pada rengekan ...
Komentar
Posting Komentar